Aku masih ingat ketika lapar sedang
menyerangku dan aku juga masih ingat bagaimana caranya untuk mengusirnya.
Meskipun aku tidak mempunyai apa-apa, tapi aku masih bisa berusaha dengan
segala kemampuanku. Apabila kenyang tak juga berpihak kepadaku, aku masih punya
daging di dalam tubuhku. Meski kusadari daging tubuh tak seberapa, tapi
lumayanlah untuk sekedar pengganjal lapar.
Aku masih ingat ketika dahaga sedang
melandaku dan aku juga masih ingat bagaimana caranya untuk menepisnya. Aku
masih bisa merangkak-rangkak mencari sebuah telaga. Apabila aku tidak mendapatkan
setitik air, aku masih ingat bagaimana caranya menangis, untuk kemudian
kuminum. Jika air mataku kering, setidaknya aku masih punya sedikit darah yang
mengalir dalam tubuhku. Kurasa tidak terlalu buruk untuk mengaliri
tenggorokanku yang kering.
Aku masih ingat ketika persimpangan
jalan sedang menyesatkanku dan aku masih ingat bagaimana caranya bertanya. Aku
juga masih ingat bagaimana caranya untuk berbicara. Apabila jalan yang hendak
kutempuh telah buntu, aku akan meninggalkan keegoisanku dan aku akan mengikuti
jalan mana yang sebaiknya kulalui. Jika semua jalan tak menuju, aku bisa pasrah
pada tiupan angin dan entah ke mana membawaku.
Aku masih ingat ketika lelah sedang
menjagalku dan aku masih ingat bagaimana caranya untuk tidur. Aku masih ingat
bagaimana caranya membaringkan diri. Apabila tidak tersedia tempat untukku, aku
masih ingat bagaimana caranya membuka pintu hatiku, aku masih mempunyai ranjang
dan aku bisa istirahat dan terlelap di sana. Meskipun juga harus kusadari
selama ini tidur tak melahirkan apa-apa dan nyenyak yang terus menjauh.
Aku masih ingat ketika gelap sedang
menyekapku dan aku masih ingat bagaimana caranya untuk berdiam. Aku juga masih
ingat apa itu pagi, aku masih bisa memeluk harapanku pada matahari. Meskipun
aku selalu ingat kejadian-kejadian sebelumnya yang telah kulalui, bahwa
matahari berada di balik gumpalan awan hitam, bersembunyi, tak ada wujudnya.
Aku masih ingat ketika kesendirian
sedang menyeretku kepuncak bukit sunyi dan aku masih ingat serta sadar
sepenuhnya tentang siapa aku. Aku masih punya jiwa dan aku juga masih ingat
bagaimana caranya berpasrah, aku juga masih ingat bagaimana caranya berdoa, aku
masih punya bahasa jiwa yang senantiasa berseru memanggil-manggil. Apabila
suaraku masih juga tak sampai, aku masih bisa memeluk bayanganku sendiri.
Meskipun aku tahu begitu sulitnya menemukan, tapi aku masih ingat bagaimana
caranya merangkak di tanah kering yang tanpa cahaya.
Aku masih ingat ketika sekarat
sedang menggerogotiku dan aku masih ingat bagaimana caranya bangkit. Aku akan
terus berusaha menegakkannya, berdiri. Apabila aku menggelepar-gelepar hingga
kemudian terkapar, aku masih ingat bagaimana caranya bernafas. Meskipun aku
tahu nafasku yang hanya tingal satu-satu, aku akan menghirupnya. Apabila
oksigen tak mampu mengaliri tubuhku, aku masih punya hidung dan mulut batinku
yang tak pernah letih mempertahankan nafas hidup.
Aku masih ingat akan diriku yang masih
saja berkeras hati mempertahankan kebosanan ini.
Aku masih ingat akan diriku yang masih
saja berkeras hati mempertahankan kesia-siaan ini.
Aku masih ingat akan diriku yang masih
saja berkeras hati mempertahankan sunyi ini.
Aku masih ingat akan diriku yang masih
saja berkeras hati mempertahankan sekarat ini.
Aku masih ingat akan diriku yang masih
saja berkeras hati mempertahankan hidup ini.
Tapi,-
Aku benar-benar tidak ingat untuk apa
dan kenapa semua ini kulakukan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar