Selasa, 14 Februari 2012

aku masih ingat


Aku masih ingat ketika lapar sedang menyerangku dan aku juga masih ingat bagaimana caranya untuk mengusirnya. Meskipun aku tidak mempunyai apa-apa, tapi aku masih bisa berusaha dengan segala kemampuanku. Apabila kenyang tak juga berpihak kepadaku, aku masih punya daging di dalam tubuhku. Meski kusadari daging tubuh tak seberapa, tapi lumayanlah untuk sekedar pengganjal lapar.
  
Aku masih ingat ketika dahaga sedang melandaku dan aku juga masih ingat bagaimana caranya untuk menepisnya. Aku masih bisa merangkak-rangkak mencari sebuah telaga. Apabila aku tidak mendapatkan setitik air, aku masih ingat bagaimana caranya menangis, untuk kemudian kuminum. Jika air mataku kering, setidaknya aku masih punya sedikit darah yang mengalir dalam tubuhku. Kurasa tidak terlalu buruk untuk mengaliri tenggorokanku yang kering.

Aku masih ingat ketika persimpangan jalan sedang menyesatkanku dan aku masih ingat bagaimana caranya bertanya. Aku juga masih ingat bagaimana caranya untuk berbicara. Apabila jalan yang hendak kutempuh telah buntu, aku akan meninggalkan keegoisanku dan aku akan mengikuti jalan mana yang sebaiknya kulalui. Jika semua jalan tak menuju, aku bisa pasrah pada tiupan angin dan entah ke mana membawaku.

Aku masih ingat ketika lelah sedang menjagalku dan aku masih ingat bagaimana caranya untuk tidur. Aku masih ingat bagaimana caranya membaringkan diri. Apabila tidak tersedia tempat untukku, aku masih ingat bagaimana caranya membuka pintu hatiku, aku masih mempunyai ranjang dan aku bisa istirahat dan terlelap di sana. Meskipun juga harus kusadari selama ini tidur tak melahirkan apa-apa dan nyenyak yang terus menjauh.

Aku masih ingat ketika gelap sedang menyekapku dan aku masih ingat bagaimana caranya untuk berdiam. Aku juga masih ingat apa itu pagi, aku masih bisa memeluk harapanku pada matahari. Meskipun aku selalu ingat kejadian-kejadian sebelumnya yang telah kulalui, bahwa matahari berada di balik gumpalan awan hitam, bersembunyi, tak ada wujudnya.

Aku masih ingat ketika kesendirian sedang menyeretku kepuncak bukit sunyi dan aku masih ingat serta sadar sepenuhnya tentang siapa aku. Aku masih punya jiwa dan aku juga masih ingat bagaimana caranya berpasrah, aku juga masih ingat bagaimana caranya berdoa, aku masih punya bahasa jiwa yang senantiasa berseru memanggil-manggil. Apabila suaraku masih juga tak sampai, aku masih bisa memeluk bayanganku sendiri. Meskipun aku tahu begitu sulitnya menemukan, tapi aku masih ingat bagaimana caranya merangkak di tanah kering yang tanpa cahaya.

Aku masih ingat  ketika sekarat sedang menggerogotiku dan aku masih ingat bagaimana caranya bangkit. Aku akan terus berusaha menegakkannya, berdiri. Apabila aku menggelepar-gelepar hingga kemudian terkapar, aku masih ingat bagaimana caranya bernafas. Meskipun aku tahu nafasku yang hanya tingal satu-satu, aku akan menghirupnya. Apabila oksigen tak mampu mengaliri tubuhku, aku masih punya hidung dan mulut batinku yang tak pernah letih mempertahankan nafas hidup.

Aku masih ingat akan diriku yang masih saja berkeras hati mempertahankan kebosanan ini.
Aku masih ingat akan diriku yang masih saja berkeras hati mempertahankan kesia-siaan ini.
Aku masih ingat akan diriku yang masih saja berkeras hati mempertahankan sunyi ini.
Aku masih ingat akan diriku yang masih saja berkeras hati mempertahankan sekarat ini.
Aku masih ingat akan diriku yang masih saja berkeras hati mempertahankan hidup ini.

Tapi,-
Aku benar-benar tidak ingat untuk apa dan kenapa semua ini kulakukan....   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar