dari stasiun
engkau naik andong
engkau naik andong
aku berjalan di belakangmu
memunguti tlethong
jalanku terhenti
jalanku terhenti
mewakili teman-temannya
ingin memarkir becaknya
di jantungku
begitu semuanya selesai
aku berjalan lagi
baru beberapa langkah
melewati gedung Dewan Perwakilan Rakyat
penjual angkringan menarik tanganku
membawaku duduk di bangku
secangkir kopi pahit
diperas dari tubuhnya
disuguhkan kepadaku
lalu membakar hatinya
dengan bara arang hidup
yang ditusuk-tusuk seperti sate
setelah menunggu menghitam
disuguhkan lagi kepadaku
aku yang lapar
tanpa basa-basi
lalu kusantap panas-panas
tak sedikitpun tersisa
aku reguk juga kopinya
hingga ludes
tiba-tiba ada orang datang
menghampiriku dari belakang
dan mencongkel pintu lemari batinku
lalu ditaruhnya seluruh dagangannya
mas, tolong simpan untukku!
katanya sembari pergi
aku pamit
pada bapak penjual angkringan
ingin meneruskan perjalananku
namun baru beberapa meter
anak-anak tukang asongan
dan tukang semir
yang sedang berlari-lari
menabrakku dan terjatuh
aku capek!
katanya kepada teman-temannya
sambil membaringkan tubuhnya
di balai mataku gerhana
aku membiarkan saja
mereka istirahat dan tidur
lalu aku berjalan perlahan-lahan
takut membangunkan mereka
malam semakin larut
para pengamen tak surut
melagukan tembang hidup yang kecut
di trotoar jiwaku
sesampainya di pelataran ngejaman
aku melihat para pelancong
sedang memamerkan barang-barangnya
yang baru saja dibeli
lihat gudeg yang aku beli
dan semua yang ada di dalam besek ini
sengaja kubawa sebagai oleh-oleh
untuk saudara juga tetanggaku
kata seorang pelancong
aku juga,
ini keris yang aku bawa
dan yang terbungkus dalam dos ini
nantinya akan kutaruh di galeriku
sahut pelancong yang lain
aku telah memborong juga
surjan dan blankon
semuanya dilipat rapi dalam karung ini
timpal pelancong lain
tak mau kalah
bisa apa untuk seorang aku ini
ucap batinku lemas
kulanjutkan lagi saja perjalananku
hingga sampai di bangunan sejarah Seni-Sono
tatih ini melaksanakan sembahyang
kepada perih
ingin sejenak istirahat dan berbaring
tetapi betapa terkejutnya aku
tatkala melihat Gedung Seni-Sono
telah terbungkus dengan seng
pelancong mana lagi yang telah
membelinya
tanyaku dalam hati
keingintahuanku memaksa untuk bertahan
sebenarnya siapa yang telah membeli
aku terus bertanya-tanya
di dalam hati
sungguh sayang
usahaku untuk mengetahui
siapa di balik ini semua
tak jadi terjawab alias gagal
aku tidak bisa bertahan lebih lama
karena sekawanan polisi
dengan mobil patroli berhenti
dan turun tepat di depanku
lalu menangkap dan menyeretku
dan sampailah aku
di kamar berjeruji
aku bertanya-tanya
sebenarnya,
siapa yang tega menjualnya
masih di dalam hati
*Angkringan / penjual
makanan dengn gerobak
*Tlethong / kotoran
kuda
*Ngejaman / Tugu Jam
*Gedung Seni-Sono / adalah bangunan sejarah, yang menjadi pusat seni dan gedung pertunjukan
*Ngejaman / Tugu Jam
*Gedung Seni-Sono / adalah bangunan sejarah, yang menjadi pusat seni dan gedung pertunjukan
*Gudeg / makan tradisional
khas kota Jogjakarta
*Surjan / pakaian tradisional
khas kota Jogjakarta
*Blankon / sejenis
penutup kepala tradisional khas kota Jogjakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar