Sebagai presiden sudah menjadi resiko, aku harus bersedia
menampung segala keluhan seluruh gubernur yang ada di negeri ini. Dengan berat
hati aku terpaksa hadir dalam pertemuan ini. Sejujurnya pertemuanku dengan
mereka itu tidak seluruhnya sia-sia belaka, singkatnya ada pentingnya juga. Lagipula mereka juga yang mewakili seluruh lapisan masyarakat yang ada di negeri
ini, jadi kalau hubunganku dengan mereka terjalin baik, bukan tidak mungkin
mereka juga akan terus mendukung di belakangku.
Tapi tidak aku pungkiri jauh di dalam hatiku, aku sedikit
merasa kesal dengan pertemuan ini, karena aku harus membatalkan liburanku ke
luar negeri yang sudah masak kurencanakan sebulan yang lalu. Ya, sedih memang,
tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena aku sudah terlanjur mengucapkan ‘ya’.
Sekarang aku hanya bisa berharap, hasil pertemuanku dengan para gubernur akan
membawa keuntungan berlipat ganda, khususnya untukku tentu saja.
Setidak-tidaknya ada keuntungan yang bisa menggantikan liburanku yang tertunda.
Sebenarnya sebagai presiden dan orang nomer satu di negeri
ini, aku bisa saja membatalkan pertemuan ini. Apalagi mengingat aku adalah
orang yang mempunyai kekuasaan penuh atas segala keputusan yang ada di negeri
ini. Terus-terang saja aku bisa melakukan apapun yang orang lain anggap tidak
masuk akal. Singkatnya, aku bisa berbuat sesuka hatiku. Bahkan aku sudah sering
melakukannya, termasuk membatalkan pertemuan seperti ini. Tapi entah kenapa,
sekarang aku punya pikiran lain, seperti ketakutan akan sesuatu hal buruk akan
menimpaku—kalau para gubernur itu lama-lama menjadi dongkol, karena perbuatanku
yang semena-mena dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bukankah kalau sudah
begitu, sangat mungkin akan membawa dampak buruk buat aku sendiri. Lama-lama
mereka bisa saja mulai berpikir untuk tidak mempedulikanku, seperti yang pernah
kulakukan pada mereka. Dan dampak buruknya kalau itu dibiarkan berkelanjutan,
bisa jadi mereka mulai bersekongkol untuk menggulingkan diriku dari jabatan
presiden yang sudah ada padaku selama puluhan tahun ini.
Jam 10:26 pagi. Aku sampai tujuan. Semua gubernur dari
segala penjuru negeri ini sudah berkumpul dan menunggu kedatanganku. Bahkan
wakil presiden pun telah hadir juga. Tanpa membuang-buang waktu aku langsung
berjalan menuju kursi yang memang sudah dipersiapkan untukku.
“Selamat Pagi, Bapak Presiden!” sambut para gubernur hampir
bersamaan. Mereka pun berdiri.
“Selamat pagi!” jawabku. Kemudian aku pun duduk, begitu juga
dengan mereka.
Suasana pun menjadi tenang.
“Okay,” kataku, “jangan buang-buang waktu lagi. Mari kita
mulai pertemuan ini, dan langsung saja ke pokok permasalahannya. Tapi kuharap
bicaranya santai saja, jangan terlalu buru-buru, dan jangan terlalu serius.
Bisa-bisa masalah yang kita hadapi bukan terselesaikan… tapi kita sendiri yang
menjadi cepat tua dan pikun. Kalau sudah begitu bisa gawat kan? Nanti-nanti
kita kan tidak bisa menikmati hidup yang indah ini.”
Para gubernur tertawa. Tapi ada juga beberapa orang yang
hanya senyum tersipu malu. Mungkin mereka takut kehilangan wibawanya.
Sejujurnya dalam kehidupan sehari-hari mereka memang jarang tertawa.
Paling-paling mereka tertawa kalau—(maaf rasanya tidak pantas untuk
membicarakan rahasia orang, apalagi keburukannya). Jika rahasia ini aku beberkan
di sini, bukan tidak mungkin, aku juga akan mendapat masalah, karena aku pun
ikut di dalamnya.
“Maafkan aku, Bapak Presiden,” kata salah seorang gubernur mewakili
teman-temannya. “Sejujurnya masalah yang kami hadapi sekarang ini, masalahnya
tidak tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Intinya masalah ini hanya
berpangkal pada satu pokok saja.”
“Oh ya, bagus kalau begitu,” kataku senang. “Jadi kau bisa
mewakili teman-teman yang lain untuk menjelaskan masalah ini padaku, nanti yang
lainnya tinggal menambahkan kekurangannya. Soalnya kalau semua berbicara nanti
makin tidak jelas, dan yang lebih parah lagi, membuatku pusing.”
“Terima Kasih, Bapak Presiden,” katanya, “kalau begitu saya
akan segera mulainya.”
“Aku suka itu…” kataku, “Dengan begitu kita bisa menyingkat
waktu. Ayo cepat katakan.”
“Saya mengambil contoh dari kota saya,” katanya menjelaskan.
“Kebetulan saya mendapat investor asing yang ingin membangun sebuah hotel
mewah, tapi masyarakat sekitar menolak. Padahal kalau proyek itu berjalan
lancar, memungkinkan para investor-investor lain juga akan berdatangan untuk menanamkan
modal usahanya.”
“Bagaimana bisa masyarakat tidak menyetujuinya?”
“Lokasi paling strategis yang diinginkan investor, sudah
didapatkan. Tapi lokasi itu sekarang ada pemukiman perkampungan kumuh dan pasar
tradisional. Saya sudah menawarkan ganti rugi, tapi mereka bersikukuh tidak mau
menerima.”
“Betul itu, Bapak Presiden,” kata gubernur yang lain dengan
suara keras.
“Betul? Apanya yang betul,” Meskipun aku terkejut, dengan
caranya bicaranya yang keras dan mendadak, tapi aku tidak memperlihatkan keterkejutanku
di depan mereka. Untung aku memiliki wajah, selalu terlihat tenang, meskipun
aku dalam keadaan panik sekali pun. “Tidak ada angin, tidak ada hujan,
tiba-tiba kau menyambar seperti petir, berteriak betul.” Aku memperlihatkan
senyumku yang—kata orang menawan. “Tenang, tenang” kataku lagi. “Kita harus
memikirkan dengan kepala dingin. Jangan membuat suasana menjadi panas. Sekarang
bicaralah dengan santai, apa yang yang kau maksud dengan ‘betul’ itu.”
“Maaf, Bapak Presiden,” ia mengangguk-anggukan
kepalanya. “Saya benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran masyarakat di
negeri ini. Bayangkan kalau untuk sebuah hotel saja, masyarakat sudah menolak,
bagaimana kalau investor ingin mendirikan pabrik, kafe, tempat perjudian,
diskotik, atau tempat-tempat hiburan lainnya. Bagaimana negeri ini bisa
bersaing dengan negara lain, kalau cara berpikir masyarakatnya negeri ini masih
sangat kampungan.”
“Itu yang kumaksud,” kataku. Aku mengacungkan jempol
tanganku. “Kalau kau bicara seperti itu aku baru mengerti maksudmu. Memang
benar masyarakat negeri ini cara berpikirnya masih sangat kampungan, tapi
menurutku itu bukan masalah serius. Justru bagus, dengan begitu kita bisa
mengelabuhi mereka.”
“Maksud Anda, Bapak Presiden?”
“Masyarakat jangan diberitahu dulu, tentang proyek yang akan
dikerjakan oleh investor. Nanti kalau sudah selesai, tidak ada pilihan lagi,
masyarakat harus menerima kenyataan yang ada. Mereka tidak bisa berbuat
apa-apa, kalau mereka tetap ingin memprotes, itu gampang… Apa gunanya kita
punya polisi dan tentara?”
Suasana sedikit berisik, karena para gubernur sedang
berbisik dengan teman di sebelahnya.
“Untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur, itu memang
sulit. Apalagi masyarakat kita… ya seperti yang kita lihat sekarang. Tentu saja
mereka belum bisa menerima. Pola pikir mereka masih sangat kampungan dan bodoh.
Tapi biarkan saja…. Nanti mereka juga akan sadar dengan sendirinya.”
“Tapi ini sangat sulit Bap—”
“Tidak ada yang sulit!” potongku.
“Tapi bagaimana caranya?”
“Banyak sekali cara,” kataku yakin. “Tapi itu juga kalau
kalian memikirkannya dengan jernih,” aku diam menunggu. Satu menit berlalu,
tapi tak ada seorang pun yang berani mengajukan usul. Pikirku, mereka bisa
dengan mudah mengatakan masyarakat negeri ini cara berpikirnya masih sangat kampungan,
tapi mereka sendiri… kurasa, sama saja. “Apakah sudah ada yang menemukan
caranya?” tanyaku. Tapi suaraku tetap dengan nada pelan. Bahkan aku juga
tersenyum kepada mereka. “Okay…” kataku lagi, “Aku aku akan memberikan beberapa
contoh, tapi nanti pada prakteknya kalian sendiri yang mengembangkannya.”
Seketika mereka diam, serius, dan arah pandangannya menuju kepadaku. “Untuk
mengusir perkampungan padat penduduk, kalian cari salah satu warga, suruh dia
membuat konsleting listrik arus pendek hingga menyebabkan kebakaran. Berikan
dia uang supaya tutup mulut. Nanti kalau warga sudah kehilangan rumah, itu
mudah lagi untuk menanganinya. Dan kurasa kalian sudah bisa menangani bagaimana
selanjutnya.”
Para gubernur mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kalau itu masih terlalu dianggap sulit,” kataku lagi,
“cari seseorang untuk meledakkan kompornya. Mudah bukan?” Aku mengangkat
bahuku. “Tawari saja dia sebuah rumah dan beberapa uang. Kurasa tidak terlalu
sulit untuk mencari orang yang mau berkhianat pada tetangganya sendiri, untuk
membantu memuluskan jalannya proyek yang akan kita kerjakan.”
Untuk yang kesekian kalinya para gubernur
mengangguk-anggukan kepalanya begitu mendengar usulku.
“Lalu untuk lebih gampang lagi,” kataku, “perkampungan
mereka langsung digusur saja. Kalau mereka melawan, biarkan aparat yang
menyelesaikan. PEMBANGUAN HARUS TETAP BERJALAN! TIDAK ADA SATU ALASAN PUN YANG
BISA MENGHENTIKANNYA!”
“Sejahtera, Bapak Presiden! Bapak Pembangunan!” Para
gubernur serentak berdiri dan berteriak. Kemudian disusul dengan tepuk tangan
yang meriah.
“Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!”
* * * * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar