Selasa, 14 Februari 2012

Dengan berat hati aku harus membatalkan liburanku ke luar negeri

Sebagai presiden sudah menjadi resiko, aku harus bersedia menampung segala keluhan seluruh gubernur yang ada di negeri ini. Dengan berat hati aku terpaksa hadir dalam pertemuan ini. Sejujurnya pertemuanku dengan mereka itu tidak seluruhnya sia-sia belaka, singkatnya ada pentingnya juga. Lagipula mereka juga yang mewakili seluruh lapisan masyarakat yang ada di negeri ini, jadi kalau hubunganku dengan mereka terjalin baik, bukan tidak mungkin mereka juga akan terus mendukung di belakangku.
Tapi tidak aku pungkiri jauh di dalam hatiku, aku sedikit merasa kesal dengan pertemuan ini, karena aku harus membatalkan liburanku ke luar negeri yang sudah masak kurencanakan sebulan yang lalu. Ya, sedih memang, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena aku sudah terlanjur mengucapkan ‘ya’. Sekarang aku hanya bisa berharap, hasil pertemuanku dengan para gubernur akan membawa keuntungan berlipat ganda, khususnya untukku tentu saja. Setidak-tidaknya ada keuntungan yang bisa menggantikan liburanku yang tertunda.
Sebenarnya sebagai presiden dan orang nomer satu di negeri ini, aku bisa saja membatalkan pertemuan ini. Apalagi mengingat aku adalah orang yang mempunyai kekuasaan penuh atas segala keputusan yang ada di negeri ini. Terus-terang saja aku bisa melakukan apapun yang orang lain anggap tidak masuk akal. Singkatnya, aku bisa berbuat sesuka hatiku. Bahkan aku sudah sering melakukannya, termasuk membatalkan pertemuan seperti ini. Tapi entah kenapa, sekarang aku punya pikiran lain, seperti ketakutan akan sesuatu hal buruk akan menimpaku—kalau para gubernur itu lama-lama menjadi dongkol, karena perbuatanku yang semena-mena dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bukankah kalau sudah begitu, sangat mungkin akan membawa dampak buruk buat aku sendiri. Lama-lama mereka bisa saja mulai berpikir untuk tidak mempedulikanku, seperti yang pernah kulakukan pada mereka. Dan dampak buruknya kalau itu dibiarkan berkelanjutan, bisa jadi mereka mulai bersekongkol untuk menggulingkan diriku dari jabatan presiden yang sudah ada padaku selama puluhan tahun ini.
Jam 10:26 pagi. Aku sampai tujuan. Semua gubernur dari segala penjuru negeri ini sudah berkumpul dan menunggu kedatanganku. Bahkan wakil presiden pun telah hadir juga. Tanpa membuang-buang waktu aku langsung berjalan menuju kursi yang memang sudah dipersiapkan untukku.
“Selamat Pagi, Bapak Presiden!” sambut para gubernur hampir bersamaan. Mereka pun berdiri.
“Selamat pagi!” jawabku. Kemudian aku pun duduk, begitu juga dengan mereka.
Suasana pun menjadi tenang.
“Okay,” kataku, “jangan buang-buang waktu lagi. Mari kita mulai pertemuan ini, dan langsung saja ke pokok permasalahannya. Tapi kuharap bicaranya santai saja, jangan terlalu buru-buru, dan jangan terlalu serius. Bisa-bisa masalah yang kita hadapi bukan terselesaikan… tapi kita sendiri yang menjadi cepat tua dan pikun. Kalau sudah begitu bisa gawat kan? Nanti-nanti kita kan tidak bisa menikmati hidup yang indah ini.”
Para gubernur tertawa. Tapi ada juga beberapa orang yang hanya senyum tersipu malu. Mungkin mereka takut kehilangan wibawanya. Sejujurnya dalam kehidupan sehari-hari mereka memang jarang tertawa. Paling-paling mereka tertawa kalau—(maaf rasanya tidak pantas untuk membicarakan rahasia orang, apalagi keburukannya). Jika rahasia ini aku beberkan di sini, bukan tidak mungkin, aku juga akan mendapat masalah, karena aku pun ikut di dalamnya.
“Maafkan aku, Bapak Presiden,” kata salah seorang gubernur mewakili teman-temannya. “Sejujurnya masalah yang kami hadapi sekarang ini, masalahnya tidak tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Intinya masalah ini hanya berpangkal pada satu pokok saja.”
“Oh ya, bagus kalau begitu,” kataku senang. “Jadi kau bisa mewakili teman-teman yang lain untuk menjelaskan masalah ini padaku, nanti yang lainnya tinggal menambahkan kekurangannya. Soalnya kalau semua berbicara nanti makin tidak jelas, dan yang lebih parah lagi, membuatku pusing.”
“Terima Kasih, Bapak Presiden,” katanya, “kalau begitu saya akan segera mulainya.”
“Aku suka itu…” kataku, “Dengan begitu kita bisa menyingkat waktu. Ayo cepat katakan.”
“Saya mengambil contoh dari kota saya,” katanya menjelaskan. “Kebetulan saya mendapat investor asing yang ingin membangun sebuah hotel mewah, tapi masyarakat sekitar menolak. Padahal kalau proyek itu berjalan lancar, memungkinkan para investor-investor lain juga akan berdatangan untuk menanamkan modal usahanya.”
“Bagaimana bisa masyarakat tidak menyetujuinya?”
“Lokasi paling strategis yang diinginkan investor, sudah didapatkan. Tapi lokasi itu sekarang ada pemukiman perkampungan kumuh dan pasar tradisional. Saya sudah menawarkan ganti rugi, tapi mereka bersikukuh tidak mau menerima.”
“Betul itu, Bapak Presiden,” kata gubernur yang lain dengan suara keras.
“Betul? Apanya yang betul,” Meskipun aku terkejut, dengan caranya bicaranya yang keras dan mendadak, tapi aku tidak memperlihatkan keterkejutanku di depan mereka. Untung aku memiliki wajah, selalu terlihat tenang, meskipun aku dalam keadaan panik sekali pun. “Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba kau menyambar seperti petir, berteriak betul.” Aku memperlihatkan senyumku yang—kata orang menawan. “Tenang, tenang” kataku lagi. “Kita harus memikirkan dengan kepala dingin. Jangan membuat suasana menjadi panas. Sekarang bicaralah dengan santai, apa yang yang kau maksud dengan ‘betul’ itu.”
 “Maaf, Bapak Presiden,” ia mengangguk-anggukan kepalanya. “Saya benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran masyarakat di negeri ini. Bayangkan kalau untuk sebuah hotel saja, masyarakat sudah menolak, bagaimana kalau investor ingin mendirikan pabrik, kafe, tempat perjudian, diskotik, atau tempat-tempat hiburan lainnya. Bagaimana negeri ini bisa bersaing dengan negara lain, kalau cara berpikir masyarakatnya negeri ini masih sangat kampungan.”
“Itu yang kumaksud,” kataku. Aku mengacungkan jempol tanganku. “Kalau kau bicara seperti itu aku baru mengerti maksudmu. Memang benar masyarakat negeri ini cara berpikirnya masih sangat kampungan, tapi menurutku itu bukan masalah serius. Justru bagus, dengan begitu kita bisa mengelabuhi mereka.”
“Maksud Anda, Bapak Presiden?”
“Masyarakat jangan diberitahu dulu, tentang proyek yang akan dikerjakan oleh investor. Nanti kalau sudah selesai, tidak ada pilihan lagi, masyarakat harus menerima kenyataan yang ada. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, kalau mereka tetap ingin memprotes, itu gampang… Apa gunanya kita punya polisi dan tentara?”
Suasana sedikit berisik, karena para gubernur sedang berbisik dengan teman di sebelahnya.
“Untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur, itu memang sulit. Apalagi masyarakat kita… ya seperti yang kita lihat sekarang. Tentu saja mereka belum bisa menerima. Pola pikir mereka masih sangat kampungan dan bodoh. Tapi biarkan saja…. Nanti mereka juga akan sadar dengan sendirinya.”
“Tapi ini sangat sulit Bap—”
“Tidak ada yang sulit!” potongku.
“Tapi bagaimana caranya?”
“Banyak sekali cara,” kataku yakin. “Tapi itu juga kalau kalian memikirkannya dengan jernih,” aku diam menunggu. Satu menit berlalu, tapi tak ada seorang pun yang berani mengajukan usul. Pikirku, mereka bisa dengan mudah mengatakan masyarakat negeri ini cara berpikirnya masih sangat kampungan, tapi mereka sendiri… kurasa, sama saja. “Apakah sudah ada yang menemukan caranya?” tanyaku. Tapi suaraku tetap dengan nada pelan. Bahkan aku juga tersenyum kepada mereka. “Okay…” kataku lagi, “Aku aku akan memberikan beberapa contoh, tapi nanti pada prakteknya kalian sendiri yang mengembangkannya.” Seketika mereka diam, serius, dan arah pandangannya menuju kepadaku. “Untuk mengusir perkampungan padat penduduk, kalian cari salah satu warga, suruh dia membuat konsleting listrik arus pendek hingga menyebabkan kebakaran. Berikan dia uang supaya tutup mulut. Nanti kalau warga sudah kehilangan rumah, itu mudah lagi untuk menanganinya. Dan kurasa kalian sudah bisa menangani bagaimana selanjutnya.”
Para gubernur mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kalau itu masih terlalu dianggap sulit,” kataku lagi, “cari seseorang untuk meledakkan kompornya. Mudah bukan?” Aku mengangkat bahuku. “Tawari saja dia sebuah rumah dan beberapa uang. Kurasa tidak terlalu sulit untuk mencari orang yang mau berkhianat pada tetangganya sendiri, untuk membantu memuluskan jalannya proyek yang akan kita kerjakan.”
Untuk yang kesekian kalinya para gubernur mengangguk-anggukan kepalanya begitu mendengar usulku.
“Lalu untuk lebih gampang lagi,” kataku, “perkampungan mereka langsung digusur saja. Kalau mereka melawan, biarkan aparat yang menyelesaikan. PEMBANGUAN HARUS TETAP BERJALAN! TIDAK ADA SATU ALASAN PUN YANG BISA MENGHENTIKANNYA!”
“Sejahtera, Bapak Presiden! Bapak Pembangunan!” Para gubernur serentak berdiri dan berteriak. Kemudian disusul dengan tepuk tangan yang meriah.
“Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!”

* * * * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar