Keheningan
mendobrak-dobrak pintu kesendirianku.
Aku bagai
angin yang nafasnya hanya tinggal satu-satu berhembus, aku telah kehilangan
tenagaku, dan sekarang aku terhempas di hamparan tanah kering. Lengkaplah
sudah, sekarang aku sangat letih hingga nyaris tak mampu bergerak lagi. Aku
laksana terjaring dalam bahasa batu, begitu keras, dan begitu diam. Lalu
kukumpulkan sisa-sisa tenagaku, dan kukerahkan suara terdalam dari jiwaku,
kupanggil sahabat sejatiku;
malam
sunyi
dingin
kabut
embun
siang
debu
tak-berdaya
perih
sia-sia
dan seluruh sahabat yang selama ini selalu menemaniku.
‘Mari
sahabat…’ Aku tenggelam dalam diri, ‘Kita membentuk sebuah lingkaran dan
berjabat dalam sanubari.’
Keheningan
telah berhasil merobohkan pintu kesendirianku, kemudian masuk ke dalam
ruanganku yang paling pribadi. Aku berusaha untuk tetap tenang. Aku tidak mau
sahabat-sahabatku melihat dan merasakan apa yang sedang kualami.
‘Sahabatku
semua,’ Aku mencoba untuk mencairkan suasana yang sudah mulai beku, seperti
gumpalan salju. ‘Kebetulan hari ini kita sedang mendapat sedikit limpahan
rejeki.’ Sejenak sunyi, ‘Dan kini, hidangan sudah tersaji di tengah kita.
Sepiring
batin yang moyak-koyak,
segelas
darah,
sepotong hati menghitam,
segumpal jantung sekarat,
dan setoples serbuk jiwa kering.’
Keheningan
ternyata tidak mau tinggal diam, melainkan terus memaksa ke dalam ruanganku
yang paling pribadi. Cakarnya terus menggores, mencabik lapisan
demi lapisan dindingku.
Aku
merasakan sakit yang teramat sakit, dan sangat, sangat, sangat perih sekali.
Aku ingin menjerit, tapi aku tidak bisa. Mulutku bagai dibungkam seribu tangan.
Kulitku serasa bagi terkelupas, dan buliran keringat pun mulai keluar
dari seluruh lubang pori-pori.
Suaraku
tertahan, dan semakin tenggelam. Nafasku berat. Aku sekarat.
‘Mari
sahabat…’ Suaraku gemetar, ‘Sebelum kita menyantap hidangan ini, alangkah
baiknya kita panjatkan doa terlebih dulu.
Mari kita berdoa menurut keyakinan,
kepercayaan,
dan kedewasaan kita masing-masing…’
dan kedewasaan kita masing-masing…’
Kami
pun mengucap doa dalam hati. Setelah selesai, tanpa membuang-buang waktu dan
dikomando, kami langsung menyerbu semua makanan dan minuman yang sudah tersaji
di depan kami.
Sungguh
perjalanan panjang yang kutempuh ini sangat meletihkan. Tapi tidak mengurangi
sedikitpun kebuasan-ku untuk menyantap hidangan yang ada di depanku. Aku pun
segera membungkam lapar yang terus menjerit, dan mendekap dahaga yang
mengerang-erang.
‘Kelak
jika matahari terbit, dan aku belum mati,’ kataku pada diriku sendiri. ‘Maka
akan aku sambut dunia ini dengan cahaya…’
Aku
seperti sedang mengucap janji pada diri sendiri.
Dan
kini, keheningan telah bertahta di puncak kesendirianku.
Perjalanan
panjang sebagai yang hidup pun kembali kulanjutkan, dan aku tepati juga
janjiku pada diriku sendiri. Aku pun melangkah menyambut dunia dengan cahaya,
meskipun sesulit apapun rintangan yang menghalangiku. Aku akan terus berjalan
hingga habis kaki,
raga,
darah,
nafas…
hingga habis diriku sendiri.
Sungguh
tak mudah jalan-jalan yang kulalui, lebih sulit dari yang ada dalam pikiran dan
dugaanku. Tak pernah sekalipun kujumpai ladang hati; ada hanyalah hamparan
gurun batu dan duri belaka.
Tapi
aku tidak peduli, tekadku sudah bulat.
Aku
akan terus melangkah, hingga aku jelang cahaya yang kelak akan melenyapkan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar