Senin, 13 Februari 2012

kupanggil sahabat sejati



Keheningan mendobrak-dobrak pintu kesendirianku.
Aku bagai angin yang nafasnya hanya tinggal satu-satu berhembus, aku telah kehilangan tenagaku, dan sekarang aku terhempas di hamparan tanah kering. Lengkaplah sudah, sekarang aku sangat letih hingga nyaris tak mampu bergerak lagi. Aku laksana terjaring dalam bahasa batu, begitu keras, dan begitu diam. Lalu kukumpulkan sisa-sisa tenagaku, dan kukerahkan suara terdalam dari jiwaku, kupanggil sahabat sejatiku;
malam
sunyi
dingin
kabut
embun
siang
debu
tak-berdaya
perih
sia-sia
dan seluruh sahabat yang selama ini selalu menemaniku.
‘Mari sahabat…’ Aku tenggelam dalam diri, ‘Kita membentuk sebuah lingkaran dan berjabat dalam sanubari.’
Keheningan telah berhasil merobohkan pintu kesendirianku, kemudian masuk ke dalam ruanganku yang paling pribadi. Aku berusaha untuk tetap tenang. Aku tidak mau sahabat-sahabatku melihat dan merasakan apa yang sedang kualami.
‘Sahabatku semua,’ Aku mencoba untuk mencairkan suasana yang sudah mulai beku, seperti gumpalan salju. ‘Kebetulan hari ini kita sedang mendapat sedikit limpahan rejeki.’ Sejenak sunyi, ‘Dan kini, hidangan sudah tersaji di tengah kita.
Sepiring batin yang moyak-koyak,
segelas darah,
sepotong hati menghitam,
segumpal jantung sekarat,
dan setoples serbuk jiwa kering.’
Keheningan ternyata tidak mau tinggal diam, melainkan terus memaksa ke dalam ruanganku yang paling pribadi. Cakarnya terus menggores, mencabik lapisan demi lapisan dindingku.
Aku merasakan sakit yang teramat sakit, dan sangat, sangat, sangat perih sekali. Aku ingin menjerit, tapi aku tidak bisa. Mulutku bagai dibungkam seribu tangan. Kulitku serasa bagi terkelupas, dan buliran keringat pun mulai keluar dari seluruh lubang pori-pori.
Suaraku tertahan, dan semakin tenggelam. Nafasku berat. Aku sekarat.
‘Mari sahabat…’ Suaraku gemetar, ‘Sebelum kita menyantap hidangan ini, alangkah baiknya kita panjatkan doa terlebih dulu.
Mari kita berdoa menurut keyakinan,
kepercayaan,
dan kedewasaan kita masing-masing…’
Kami pun mengucap doa dalam hati. Setelah selesai, tanpa membuang-buang waktu dan dikomando, kami langsung menyerbu semua makanan dan minuman yang sudah tersaji di depan kami.
Sungguh perjalanan panjang yang kutempuh ini sangat meletihkan. Tapi tidak mengurangi sedikitpun kebuasan-ku untuk menyantap hidangan yang ada di depanku. Aku pun segera membungkam lapar yang terus menjerit, dan mendekap dahaga yang mengerang-erang.
‘Kelak jika matahari terbit, dan aku belum mati,’ kataku pada diriku sendiri. ‘Maka akan aku sambut dunia ini dengan cahaya…’
Aku seperti sedang mengucap janji pada diri sendiri.
Dan kini, keheningan telah bertahta di puncak kesendirianku.
Perjalanan panjang sebagai yang hidup pun kembali kulanjutkan, dan aku tepati juga janjiku pada diriku sendiri. Aku pun melangkah menyambut dunia dengan cahaya, meskipun sesulit apapun rintangan yang menghalangiku. Aku akan terus berjalan hingga habis kaki,
raga,
darah,
nafas…
hingga habis diriku sendiri.
Sungguh tak mudah jalan-jalan yang kulalui, lebih sulit dari yang ada dalam pikiran dan dugaanku. Tak pernah sekalipun kujumpai ladang hati; ada hanyalah hamparan gurun batu dan duri belaka.
Tapi aku tidak peduli, tekadku sudah bulat.
Aku akan terus melangkah, hingga aku jelang cahaya yang kelak akan melenyapkan aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar