Senin, 27 Februari 2012

tidur dan mimpi

dalam tidurku aku bermimpi
dan di dalam mimpiku
aku sedang tertidur
dan di dalam tidurku
aku bermimpi
dan di dalam mimpiku
aku tertidur
dan di dalam tidurku
aku bermimpi

aku ingin

aku ingin menghunus bintang
– tapi gelap mencengkeramku
aku ingin marah
– tapi kabut subuh menggorok leherku

batu

tatkala matahari beranjak menyapa sambil menebar surya
sisa embun yang memaksakan diri bertahan
dan mencengkeramkan kuat-kuat jemarinya di atas dedaunan
akhirnya sia-sia saja ; tergelincir dan jatuh
dan sepertinya hanya aku yang mencoba menerjemahkan itu semua
meskipun hanya dengan bahasaku

dan kita pun sama-sama


dan kita pun sama-sama
menatap pagi merasakan kehangatan surya
yang mekar se-wangi bunga rindu

nyanyian kebebasan


mengumpulan sejuta tangis
        - untuk apa?
                - kenapa tidak mampus saja?
terjun sekalian dalam jurang badai
merasa putus asa ; bosan dan selalu mentok
pastikan saja pada bunga-bunga yang gugur
bukan pada musim gugur
kenyataannya dunia ini memang mengajarkan pada tak terhingga
                                                        ; bait puisi

ajarkan aku doa


selalu saja aku lantunkan dalam kesesakan
selalu saja aku lantunkan dalam kecemasan
selalu saja aku lantunkan dalam kesalahan
selalu saja aku lantunkan dalam kedukaan
selalu saja aku lantunkan dalam ketidakberdayaan

malam-malam aku sendiri

malam-malam aku sendiri
batu bulan memperpanjang ciumannya
sedang rambutku tergerai ikut menari
sangsi

Kamis, 23 Februari 2012

Suatu pagi

“Bangsat!”
“BANGSAT!” Aku mengumpat sekuat tenagaku.
Pagi seperti ini, aku harus terbangun dari tidurku yang nyenyak. Ini sungguh mimpi paling buruk dalam sejarah hidupku. Suara keras dan sangat berisik bagai ratusan petir berada di luar rumahku. Padahal belum pernah ada sejarahnya aku bangun tidur pagi seperti ini. Dan yang lebih parah lagi, aku bangun tidur bukan karena kemauanku sendiri. Ini benar-benar hal yang sangat kubenci.

Selasa, 21 Februari 2012

Biar bagaimanapun aku harus mengucapkan terima kasih pada wartawan di seluruh negeri ini.


Tidak aku pungkiri, sejujurnya dalam hatiku, bahwa wartawan itu hanyalah sekumpulan orang-orang munafik dan pengecut. Bagiku mereka itu sama saja dengan teroris. Hanya saja caranya tidak ekstrim seperti halnya teroris sungguhan. Para wartawan hanya menyiarkan ketimpangan dan segala kejahatan pada dunia. Dengan begitu mereka pun menciptakan teror pada orang-orang. Jadi aku tidak salah menilai kalau mereka bagian dari teroris.

selamat malam keabadian!


selamat malam keabadian!
bulan leluhur kepada semesta alam
indah sekali garis buram di keningmu
senyumlah ubun-ubun kepala
setiap jengkal manusia